PENYULUHAN: Dosen Pascasarjana UMA saat menggelar penyuluhan di Kampung Mangang Kecamatan Rikit Gaib Kabupaten Gayo Lues. (ist)
MEDAN – Upaya membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana terus dilakukan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh Dosen Pascasarjana UMA, Dr. Adam, Dr. Isnaini dan Dr. Hery Syahrial.
Kegiatan bertajuk “Penyuluhan Gerakan Desa Sadar Bencana dengan Pendekatan Partisipasi Masyarakat di Kampung Mangang Kecamatan Rikit Gaib Kabupaten Gayo Lues” ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi risiko bencana yang dapat terjadi di lingkungan tempat tinggal.
Kampung Mangang, Kecamatan Rikit Gaib, Kabupaten Gayo Lues merupakan wilayah pedesaan yang memiliki karakter geografis dataran tinggi dan kawasan perbukitan.
Kondisi wilayah tersebut menjadikan masyarakat perlu memiliki kesiapsiagaan terhadap berbagai ancaman bencana, terutama bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor, banjir, cuaca ekstrem, serta gangguan akses akibat kondisi lingkungan.
Kecamatan Rikit Gaib sendiri merupakan salah satu wilayah dalam Kabupaten Gayo Lues yang memiliki karakter sosial masyarakat perdesaan dengan kekuatan gotong royong dan solidaritas warga yang menjadi modal penting dalam membangun ketangguhan masyarakat.
Kegiatan penyuluhan ini dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif, di mana masyarakat tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga terlibat aktif dalam proses identifikasi permasalahan, penyampaian pengalaman lokal, serta penyusunan pemahaman bersama mengenai risiko bencana.
“Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam upaya pengurangan risiko bencana berbasis komunitas,” ujar Ketua Pelaksana Dr. Adam.
Dr. Adam menjelaskan kesadaran masyarakat terhadap bencana perlu dibangun secara berkelanjutan.
Menurutnya, masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana harus memiliki kemampuan untuk mengenali ancaman, memahami risiko, serta mengetahui langkah yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah terjadi bencana.
“Bencana tidak dapat sepenuhnya dihindari, tetapi risikonya dapat dikurangi apabila masyarakat memiliki pengetahuan, kesiapsiagaan, dan kerja sama yang baik. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan mampu menjadi pelopor keselamatan di lingkungan masing-masing,” tambahnya.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diberikan materi mengenai konsep dasar kebencanaan, meliputi pengenalan bahaya, kerentanan, kapasitas masyarakat, mitigasi, kesiapsiagaan, sistem komunikasi darurat, serta langkah evakuasi ketika terjadi bencana.
Selain penyampaian materi, kegiatan juga dilakukan melalui diskusi interaktif dengan masyarakat. Warga diberikan kesempatan untuk menyampaikan pengalaman mereka terkait kondisi lingkungan, perubahan cuaca, lokasi yang dianggap rawan, serta kebutuhan masyarakat ketika menghadapi situasi darurat.
Melalui diskusi tersebut, teridentifikasi bahwa masyarakat memiliki pengetahuan lokal yang cukup kuat mengenai kondisi wilayahnya.
Pengetahuan tersebut menjadi modal penting dalam pengembangan Gerakan Desa Sadar Bencana, terutama dalam penyusunan peta risiko, penentuan jalur evakuasi, dan penguatan sistem kesiapsiagaan berbasis masyarakat.
Salah satu fokus utama kegiatan adalah mendorong terbentuknya budaya sadar bencana melalui penguatan peran masyarakat. Pemerintah kampung, tokoh masyarakat, pemuda, kelompok perempuan, dan unsur masyarakat lainnya didorong untuk berperan aktif dalam membangun sistem kesiapsiagaan kampung.
“Desa sadar bencana bukan hanya tentang bagaimana masyarakat menghadapi bencana ketika terjadi, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu melakukan pencegahan dan mengurangi risiko sejak awal,” terangnya.
Kegiatan ini juga menekankan pentingnya perlindungan terhadap kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas.
Dalam kondisi bencana, kelompok tersebut membutuhkan perhatian khusus sehingga perlu dimasukkan dalam perencanaan evakuasi dan kesiapsiagaan masyarakat.
Selain peningkatan pengetahuan, kegiatan penyuluhan juga menghasilkan kesadaran bersama mengenai pentingnya pemetaan risiko bencana tingkat kampung.
Masyarakat mulai memahami perlunya informasi mengenai titik rawan, lokasi aman, jalur evakuasi, titik kumpul, serta sumber daya lokal yang dapat digunakan dalam keadaan darurat.
“Kegiatan ini sejalan dengan konsep pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat yang menempatkan warga sebagai bagian utama dalam membangun ketangguhan wilayah,” jelasnya.
Masyarakat bukan hanya penerima bantuan ketika terjadi bencana, tetapi menjadi pihak pertama yang melakukan tindakan penyelamatan dan pengurangan risiko.
Melalui kegiatan penyuluhan Gerakan Desa Sadar Bencana ini, masyarakat Kampung Mangang diharapkan mampu membangun kesiapsiagaan yang lebih baik, memperkuat kerja sama antarwarga, serta mengembangkan sistem penanggulangan bencana yang sesuai dengan kondisi lokal.
“Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat dilanjutkan melalui pendampingan lanjutan berupa penyusunan peta risiko kampung, simulasi evakuasi, pembentukan kelompok relawan siaga bencana, serta integrasi program pengurangan risiko bencana dalam perencanaan pembangunan kampung,” terangnya lagi.
Dengan meningkatnya kapasitas masyarakat, Kampung Mangang diharapkan dapat menjadi contoh kampung yang memiliki kesadaran, kesiapan, dan ketangguhan dalam menghadapi berbagai potensi bencana di Kabupaten Gayo Lues. (wil)












