KONSOLIDASI: Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Bobby Nasution dan anggota DPR RI Fraksi NasDem Prananda Surya Paloh. (ist)
MEDAN – Pertemuan Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Bobby Nasution dengan anggota DPR RI Fraksi NasDem Prananda Surya Paloh menjadi perhatian publik setelah narasi dukungan politik dari Partai NasDem mencuat ke ruang media.
“Pertemuan yang dikemas dalam agenda makan malam tersebut dapat dibaca sebagai bagian dari dinamika konsolidasi elite politik nasional di 2026, “ kata Pengamat Komunikasi dari UIN Sumatera Utara Medan, Dr. Fakhrur Rozi, M.I.Kom, Rabu (29/4/2026).
Peminat kajian komunikasi digital ini melihat narasi yang dibangun di media massa khususnya dalam unggahan dua tokoh itu di media sosial. Terlihat strategi komunikasi politik yang sedikit berbeda antara Bobby Nasution dan Prananda Surya Paloh.
Prananda melalui akun Instagram pribadinya menekankan aspek kelembagaan dan sinergi politik. Dalam unggahannya, ia menyampaikan terima kasih kepada Bobby Nasution atas jamuan hangat dan kebersamaan dalam silaturahmi tersebut.
“Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat silaturahmi, membangun komunikasi yang konstruktif, serta mempererat sinergi antara Partai NasDem dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara,” demikian narasi yang ditulis dalam unggahan tersebut.
Narasi serupa turut diunggah akun resmi Partai NasDem, @official_nasdem. Kehadiran akun resmi partai dalam distribusi pesan itu menunjukkan bahwa pertemuan tersebut tidak semata diposisikan sebagai agenda personal, melainkan memiliki nilai komunikasi politik kelembagaan.
“Penggunaan istilah seperti sinergi, komunikasi konstruktif, dan penyebutan langsung Partai NasDem serta Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menunjukkan itu. Bahasa yang digunakan Prananda sangat institusional. Ini bukan sekadar unggahan silaturahmi personal, tetapi pesan politik bahwa hubungan NasDem dengan Bobby dan Pemprov Sumut berada dalam tone positif,” ujarnya.
Akun instagram dari elite politik saat ini bekerja sebagai ruang sinyal-sinyal politik. Pesan politik tidak selalu disampaikan lewat konferensi pers, tetapi melalui caption, visual, dan siapa yang ikut mengunggah.
Sementara, Bobby Nasution justru memilih pendekatan yang lebih personal dan cair. Dalam unggahannya, Bobby menulis, “Terimakasih sudah berkunjung, Abang Prananda Surya Paloh. Semoga silaturahmi ini tetap terjaga dan terus berjalan baik.”
Dr. Rozi menilai pilihan diksi Bobby memperlihatkan strategi komunikasi yang lebih fleksibel secara politik. “Bobby tidak membawa narasi institusi atau koalisi politik secara eksplisit. Ia menggunakan pendekatan relasional dan kekeluargaan. Ini penting untuk menjaga ruang komunikasi tetap terbuka tanpa terlihat terlalu politis,” ujarnya.
Hal lain yang turut menjadi perhatian adalah absennya dokumentasi pertemuan tersebut di akun resmi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, yakni @pemprovsumut dan @infosumut yang dikelola Dinas Komunikasi dan Informatika Sumut.
“Kalau diunggah akun resmi pemerintah, maknanya bisa bergeser menjadi komunikasi institusional negara dengan partai politik. Dengan tidak diunggah, ruang tafsirnya tetap berada pada level hubungan personal dan komunikasi politik informal,” katanya.
Dr. Rozi menilai, dalam era politik digital saat ini, keputusan untuk mengunggah atau tidak mengunggah sebuah pertemuan sama pentingnya dengan isi pertemuan itu sendiri. “Politik hari ini bukan hanya soal apa yang dilakukan elite, tetapi bagaimana aktivitas itu dikurasi di media sosial. Instagram telah menjadi panggung baru komunikasi kekuasaan,” ujarnya.
Situasi Politik Nasional
Lebih jauh, Dr. Rozi menilai pertemuan itu dapat dibaca sebagai upaya membangun ruang komunikasi lintas poros politik. Pertemuan elite sering kali lebih penting daripada isi pertemuannya sendiri. “Artinya, publik membaca pesan politik dari siapa bertemu siapa,” ujarnya.
Menurut dia, pertemuan Bobby dan Prananda memperlihatkan adanya proses rekonsolidasi elite. Dia menilai Bobby Nasution saat ini dipersepsikan bukan semata sebagai kepala daerah, tetapi mulai masuk dalam radar politik nasional. Narasi dukungan dari Prananda kata Rozi, dapat diklaim sebagai bentuk endorsement atau legitimasi simbolik terhadap posisi politik Bobby di masa depan.
“Walaupun belum bicara kontestasi 2029 secara terbuka, elite biasanya mulai membangun positioning jauh lebih awal. Pertemuan seperti ini penting untuk membaca arah komunikasi dan kemungkinan konfigurasi politik ke depan,” katanya. (ril/Wil)












